PENDAHULUAN
Manusia memerlukan komunikasi antara sesamanya. Untuk mengadakan komunikasi itu, tentunya memerlukan alat, yaitu alat komunikasi. Di antara berbagai alat komunikasi yang ada dari yang sederhana hingga yang canggih sekalipun, bahasa adalah alat komunikasi yang terbaik. Namun, apabila dalam menggunakan bahasa itu sebagai alat komunikasi tidak tepat, atau tidak sesuai dengan hakikat maupun aturannya, proses komunikasi menjadi terhambat. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengetahuan pemahaman, serta pengalaman dalam komunikasi berbahasa.
Secara sederhana komunikasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pertukaran informasi antara pemberi informasi dengan penerima informasi melalui suatu sistem simbol, lambang atau tanda maupuan tingkah laku. Memperhatikan defenisi tersebut, terlihat bahwa proses komunikasi setidak-tidaknya dibangun oleh tiga komponen, yakni : (1) partisipan, (2) hal yang akan diinformasikan, dan (3) alat. Pada partisipan terlihat ada pihak pemberi informasi dan ada pihak penerima informasi. Dalam hal yang diinformasikan, tentunya banyak ide, gagasan atau pemikiran mengenai sesuatu hal. Sedangkan komponen ketiga, yakni alat, adalah sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi itu. Serana itu tentunya kode atau lambang (bahasa).
Bahasa sebagai alat komunikasi terdiri atas dua aspek, yakni aspek linguistik dan aspek paralinguistik. Kedua aspek ini bekerja sama dalam membangun komunikasi bahasa. Aspek linguistik mencakup tataran fonologi, morfologi dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya semantik. Aspek para linguistik mencakup kualitas ujaran, unsur supra segmental seperti tekanan, nada dan intonasi; jarak dan gerak-gerik tubuh, rabaan yang berkenaan dengan indra perasa (kulit). Aspek linguistik dan para linguistik ini berfungsi sebagai alat komunikasi bersama-sama dengan konteks situasi membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi (Chaer dan Leonie Agustine, 1995). Dalam proses komunikasi itu, bahasa sebagai alat, baik aspek linguistik maupun aspek paralinguistik, informasi yang disampaikan, serta pihak partisipan sebagai pemberi informasi dan penerima informasi; secara bersama-sama membentuk apa yang disebut dengan tindak tutur dan peristiwa tutur dalam suatu situasi tutur.
Berkenaan dengan tindak tutur, peristiwa tutur dan situasi tutur, merupakan tiga hal dalam komunikasi berbahasa yang sering disalah artikan. Memang bisa terjadi mengingat antara ketiga hal itu ada kesamaan. Oleh karena itu sering terjadi tumpang tindih pengertian satu satu dengan yang lainnya. Padahal, antara ketiga hal itu memiliki perbedaan serta konteks yang berbeda-beda pula. Secara sederhana tindak tutur adalah segala tindak yang dilakukan seseorang pada saat berbicara. Peristiwa tutur adalah suatu kegiatan yang terkontrol oleh sejumlah kaedah maupun norma yang digunakan dalam berbicara. Sedangkan situasi tutur adalah kegiatan yang tidak terkontrol secara keseluruhan oleh kaedah-kaedah yang tetap, seperti pembicaraan pada saat perkelahian, pembunuhan, makan dan pesta (Hymes, 1972 dalam Richard (1995)).
Memperhatikan pandangan yang dikemukakan Hymes tersebut jelas bahwa tindak tutur, peristiwa tutur maupun situasi tutur, tidak sederhana saja seperti definisi yang dikemukakan, melainkan memiliki seluk-beluk yang sangat luas. Oleh karena itu, pada kesempatan ini tidak mungkin dibahas secara keseluruhan, hanya hal-hal yang dianggap penting saja, itupun hanya yang berkenaan dengan tindak tutur dan peristiwa tutur. Dengan demikian, pada kesempatan ini hal yang paling dibicarakan hanya sekitar tindak tutur dan peristiwa tutur dalam proses komunikasi.

TINDAK TUTUR
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tindak tutur adalah segala tindak yang dilakukan seseorang dalam berbicara. Richard (1995) mengemukakan bahwa tindak tutur (dalam arti yang sempit sekarang) adalah istilah minimal dari pemakaian situasi tutur/peristiwa tutur/tindak tutur. Ketika kita berbicara, kita melakukan tindakan-tindakan seperti memberi laporan, membuat pernyataan-pernyataan, mengajukan pertanyaan, memberi peringatan, memberi janji, menyetujui, menyesal dan meminta maaf. Pada bagian lain ia juga mengemukakan bahwa tindak tutur dapat diberikan sebagai sesuatu yang sebenarnya kita lakukan ketika berbicara. Ketika kita terlihat dalam percakapan, kita melakukan beberapa tindakan seperti : melaporkan, menyatakan, memperingatkan, menjanjikan, mengusulkan, menyarankan, mengkritik, meminta dan lain-lain. Suatu tindak tutur dapat didefinisikan sebagai unit terkecil aktivitas berbicara yang dapat dikatakan memiliki fungsi.
Berkenaan dengan tindak tutur ini Chaer dan Leonie Agustine (1995) berpendapat bahwa tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur itu yang lebih dilihat adalah makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Kemudian Sinclair dan Coulthard R. (1995) dalam Richard (1995) yang pernah mengadakan suatu pengamatan terhadap peristiwa sosial (pelajaran) dalam ruang belajar, dan peristiwa sosial (pelajaran) itu disebutnya sebagai kerangka analitis yang berada paling luas dan selanjutnya secara berturut-turut membagi urutan wacana hingga kebagian yang paling kecil yakni “tindak”. Tindak ini didefenisikan sebagai unit berbicara yang paling kecil yang bisa dikatakan mempunyai suatu fungsi. Berbagai tindak diberi nama yang disesuaikan dengan setiap fungsi wacana, seperti mencari keterangan, bertanya dan sebagainya.
Untuk memahami tindak tutur ini, lebih lanjut Richard (1995) mengutip pendapat seorang filsuf yang bernama Austin (1992) yang menyatakan bahwa ada ribuan kata kerja dalam bahasa Inggris seperti ; ask (bertanya), request (meminta), direct (memimpin), require (membutuhkan), order (menyuruh), command (memerintah), suggest (menyarankan), beg (memohon), plead (menuntut), yang kesemuanya menandai tindak tutur. Tetapi tindak tutur itu tidak sekedar setara dengan kata kerja yang digunakan untuk menggambarkan tindak tutur itu.
Memperhatikan berbagai pendapat di atas, kesulitan itu dalam memahami persoalan tindak tutur secara mendasar agak sulit. Kesulitan itu muncul karena tindak tutur itu sendiri terbentuk pada saat berbicara. Kita ketahui bahwa pada saat berbicara ataupun komunikasi berbahasa, banyak faktor terkait yang menentukan keberhasilan terlaksananya kegiatan itu. Oleh karena itu, bidang ini banyak dikaji dalam bidang pragmatik, khususnya dalam implikatur percakapan. Namun demikian, pada hakikatnya tindak tutur adalah tindakan yang dilakukan oleh penutur pada saat berlangsungnya percakapan. Selanjutnya, persoalan yang dilakukan oleh penutur pada saat berlangsungnya percakapan. Selanjutnya, persoalan yang lebih menarik dan lebih penting lagi adalah “bagaimana keberadaan tindak tutur dalam percakapan itu?” menjawab pertanyaan ini, Richard (1995) menegaskan bahwa fungsi utama percakapan adalah pernyataan tindak tutur. Ketika orang-orang bercakap-cakap, mereka mungkin membuat janji-janji, memberikan pujian, sanjungan, mengkritik atau mengundang dan memperingatkan. Tujuan utama peserta percakapan adalah untuk menginterprestasikan tindak tutur yang dimaksudkan secara tepat.
Percakapan sebagai suatu bentuk komunikasi berbahasa, jelas bahwa antara penatur dengan petutur terjadi interaksi. Oleh karena itu tindak tutur pun akan terealisasi. Bagaimana tindak tutur itu terealisasi dalam percakapan, Richard (1995) mengutip pendapat Brown dan Levinon yang menegaskan bahwa untuk berbagai tindak tutur, ketika dua berbicara berinteraksi bermacam-macam bentuk tantangan yang muncul baik terhadap penutur maupun petutur. Posisi dasar mereka adalah penutur maupun petutur berdasarkan jarak sosial dan tingkat kekuasaan pembicara, dan kemudian memilih strategi percakapan yang sesuai. Ada dua strategi percakapan yang mereka ajukan, yakni strategi kesopanan positif dan strategi kesopanan negatif.
Strategi-strategi kesopanan positif itu menekankan pada solidaritas, hubungan baik, dan persamaan antara penutur dan petutur. Beberapa strategi kesopanan positif itu adalah:
1. Menarik perhatian, keinginan dan kebutuhan petutur
Contoh :
“Goodness, you cut your hair !, by the way. I come to borrow some flour. (Amboi, anda baru potong rambut ya!, omong-omong, saya mau pinjam tepung).
2. Melebih-lebihkan rasa ketertarikan, persetujuan, dan simpati terhadap petutur.
Contoh :
“Yes, isn’t it just ghastly, the way it always seems to rain when you’ve houng your laundry out”
(Ya hebat bukan, selalu tampak seperti hujan jika anda akan menjemur pakaian).
3. Menekankan rasa ketertarikan kepada pendengar. Gunakan cara penyampaian kejadian secara historis.
Contoh :
“I come down stairs and what do I see”
(saya turun kelantai bahwa dan apa yang saya lihat)
4. Menggunakan penanda identitas kelompok.
Contoh :
“Help me with this bag, will you mate”
(tolong bawakan tas ini kawan)
Strategi kedua adalah strategi kesopanan negatif. Tipe kesopanan negatif ini tidak menekankan solidaritas atau persamaan antara penutur dengan petutur, tetapi
petutur berhak untuk bebas dari beban serta tekanan-tekanan. Tipe kesopanan negatif ini berfungsi sebagai upaya untuk meminimalkan beban tertentu bila tindak tutur menimbulkan dampak yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu tipe strategi negatif ini bersifat benar-benar menghormati dan tidak langsung. Berikut ini adalah beberapa strategi kesopanan negatif.
1. Meminta secara tidak langsung menurut kebiasaan
Contoh :
“Can you please pass me the salt”
(Tolong ambilkan garam tersebut)
2. Bersikap pesimis
Contoh :
“I don’t suppose you could lend me $10?”
(Saya tidak yakin anda akan meminjamkan saya $10 sebentar saja)
3. Meminimalkan beban
Contoh :
“Could I see you for a second?”
(Dapatkah saya menemui anda sebentar saja?)
4. Memohon maaf
Contoh :
“I hope you don’t mind a second ?”
(Saya harap anda tidak keberatan bila saya mampir)
Interaksi antara penutur dengan petutur pada saat berlangsungnya komunikasi (percakapan) terjadi secara timbal balik. Petutur (pendengar, penyimak) yang tadinya bertindak sebagai penerima informasi, setelah menerima dan memahami informasi itu akan bereaksi melakukan tindak tutur atau menjadi petutur. Sebaliknya, petutur (pembicara) yang tadinya bertindak sebagai pemberi informasi setelah menyampaikan informasi itu akan berubah menjadi petutur (pendengar, penyimak). Melihat kenyataan ini, Austin menelaah tindakan tutur itu dari segi penutur sedangkan Searle menelaah tindak tutur itu dari segi petutur, sehingga ia mengklasifikasikan tindak tutur berdasarkan maksud penutur (hal yang akan dipikirkan oleh petutur) menjadi lima kelompok besar, yakni :
1. Tindak tutur representatif
Tindak tutur ini mempunyai fungsi memberi tahu orang-orang mengenai sesuatu. Tindak tutur ini mencakup; mempertahankan, meminta, mengatakan, menyatakan dan melaporkan
2. Tindak tutur komisif
Tindak tutur ini menyatakan bahwa penutur akan melakukan sesuatu, misalnya janji dan ancaman
3. Tindak tutur direktif
Tindak tutur ini berfungsi untuk membuat petutur melakukan sesuatu seperti saran, permintaan dan perintah.
4. Tindak tutur ekspresif
Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan perasaan dan sikap mengenai keadaan hubungan, misalnya permintaan maaf, penyesalan dan ungkapan terima kasih.
5. Tindak tutur deklaratif
Tindak tutur ini menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan, misalnya ketika kita mengundurkan diri dengan mengatakan : “Saya mengundurkan diri, memecat seseorang dengan mengatakan; “anda dipecat”, atau menikahi seseorang dengan mengatakan “saya bersedia”. (Richard, 1995).
Dari kelima pengklasifikasian tindak tutur yang dikemukakan Searle itu, kita akan mengenal jenis-jenis kalimat sesuai dengan penggolongan tersebut. Seperti ada kita kenal kalimat komisidf, kalimat direktif, kalimat ekspresif, dan kalimat diklaratif. Namun sebelumnya, menurut tata bahasa tradisional ada tiga jenis kalimat, yakni kalimat diklaratif, iterogatif dan imperatif. Dari jenis kalimat diklaratif, Austin membedakannya menjadi dua, yakni : kalimat konstatif dan perfomrmatif. Kalimat peformatif sebagai suatu jenis kalimat yang berisi perlakuan, artinya apa yang dituturkan oleh penutur apa yang dilakukannya. Memunculkan tiga tindakan yang berlangsung sekaligus. Ketiga tindakan inilah yang disebut Austin sebagai tindak tutur, yang meliputi tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi (Chaer dan Leonie Agustina, 1995).
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk mengatakan sesuatu atau dalam arti berkata. Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur melakukan sesuatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. Sedangkan tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur melakukan sesuatu tindakan dengan mengatakan sesuatu.
Memahami ketiga jenis tindak tutur itu tampaknya agak sulit. Tetapi kalau dikaji dan dipahami melalui semantik tindak tutur, lebih mudah untuk dipahami. Untuk memahami ketiga bentuk tindak tutur, kita amati dulu contoh wacana humor
percakapan yang dikemukakan oleh Sujatmiko, kemudian dikutip oleh Chaer dan Leonie Agustina, (1995) sebagai berikut:
Pengunjung        :  “Beberapa harga peti mayat yang penuh ukiran ini?”
                              (Seorang lelaki tua)
Penjaga Toko     :  “Seratus lima puluh ribu, tuan!”
                              (toko peti mayat)
Pengunjung        :  “Bukan main mahalnya!”
Penjaga Toko     :  “Tapi, Tuan!”, saya jamin pasti peti mayat ini tidak akan membuat tuan kecewa. Karena sekali tuan masuk ke dalamnya tuan
                               tidak akan punya keinginan untuk keluar lagi!”
Dari contoh wacana di atas, kita perhatikan sebuah kalimat yang diucapkan penjaga toko, yakni : “Tuan tidak akan punya keinginan untuk keluar lagi !” apabila kita cermati kalimat ini berdasarkan ketiga bentuk tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tetapi, dapat pula terjadi lokusi saja atau ilokusi maupun perlokusi saja. Memang pada hakikatnya tindak tutur yang tampak jelas adalah tindak tutur ilokusi dan perlokusi. Sedangkan tindak tutur lokusi itu, hanya mengacu pada makna linguistik saja.
Untuk memahami ketiga tindak tutur itu dalam proses komunikasi dapat digambarkan melalui proses komunikasi seperti yang digambarkan oleh Leech (1993) berikut :
http://jurnalpena.com/images/stories/kelompok1.jpg

Memperhatikan gambar tersebut terlihat bahwa urutan : 1-2-3-4-5-6-7-8, atau urutan secara keseluruhan mulai dari nomor 1 hingga nomor 8, adalah gambaran tindak perlokusi sedangkan urutan 2-3-4-5-6-7 adalah gambaran tindak ilokusi. Urutan 3-4-5-6 menandakan tindak tutur lokusi. Apabila urutan-urutan itu dianalogikan terhadap suatu peristiwa pertandingan sepak bola, seseorang melakukan suatu tindakan; “Penyerang tengah sudah menendang bola; lebih-lebih lagi dia sudah mencetak gol; dan selanjutnya dia memenangkan pertandingan”. Peristiwa ini digambarkan Leech (1993) sebagai berikut :
http://jurnalpena.com/images/stories/kelompok2.jpg
Memperhatikan gambar diatas, jelas bagi kita bahwa dalam pertandingan sepak bola, untuk mencapai kemenangan ada proses. Proses itu merupakan serangkaian kejadian yang terkordinasi, mulai cetak gol dan akhirnya memenangkan pertandingan. Begitu juga halnya dengan tindak tutur yang terkordinasi mulai dari lokusi, ilokusi dan perlokusi.

PERISTIWA TUTUR
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahasa tindak tutur itu merupakan gejala individual, serta cenderung bersifat psikologis. Peristiwa tutur merupakan gejala yang bersifat sosial, serta dapat dikatakan bahwa peristiwa tutur ini merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur. Chaer dan Leonie Agustine (1995) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan peristiwa tutur (speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yakni petutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan dalam waktu, tempat dan situasi tertentu, jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur.
Memperhatikan pengertian peristiwa tutur itu, terlihat bahwa salah satu percakapan antara penutur dengan petutur yang dapat disebut peristiwa tutur, meliputi : (1) ada partisipan (penutur dan petutur), (2) satu pokok tuturan, (3) harus dalam waktu tertentu, (4) tempat tertentu, dan (5) situasi tertentu. Dengan demikian apabila ada percakapan yang tidak memenuhi kelima kriteria itu, bukanlah suatu peristiwa tutur. Dell Hymes, seorang pakar sosial linguistik mengemukakan delapan komponen itu dirangkaikan menjadi sebuah akronim; SPEAKING”, seperti yang dikutip oleh Wardhaugh (1990) berikut :
S    =    Setting and scence (waktu dan tempat serta situasi)
P    =    Participants (Partisipan)
E    =    Ends (Tujuan)
A    =    Act Sequence (Bentuk dan isi ujaran)
K    =    Key (Cara atau nada)
I     =    Instrumentalites (Ragam bahasa)
N   =    Norm of interaction and interpretation (Norma atau aturan berinteraksi)
G   =    Genre (Jenis atau bentuk penyampaian)
Pada akronim itu huruf pertama yakni (S) menandakan setting and scence. Hal ini berarti berkenaan dengan persoalan waktu, tempat dan situasi berlangsungnya tuturan. Apabila kita mengadakan percakapan di pasar, ditempat suatu tempat pertunjukan atau ditempat keramaian lainnya tentunya situasinya berbeda dengan mengadakan pembicaraan pada suatu ruangan, seperti di kamar.
Huruf kedua pada akronim itu adalah (P) menandai participants. Hal ini menunjukkan para penutur, siapa yang menjadi penutur dan petutur. Antara penutur dan petutur, tentunya saling berinteraksi dan saling bertukar peran. Penutur sebagai pemberi informasi, akan berganti menjadi petutur, dan petutur akan menjadi penutur, demikian seterusnya silih berganti sampai pembicaraaan berakhir. Kemudian khuruf ketiga para akronim itu (E) yang menandai ends. Hal ini menunjukkan pada persoalan maksud dan tujuan percakapan atau tuturan. Maksud dan tujuan pertuturan ini, kadang-kadang tergantung pada masing-masing partisipan. Namun demikian, dalam suatu percakapan bukan berarti secara total maksud dan tujuan diadakannya pembicaraaan itu antara masing-masing partisipan berbeda-beda, tetapi pasti ada maksud dan tujuan yang sama.
Selanjutnya pada huruf keempat akronim itu terlihat (A) yang menandai Aet Sequence. Hal ini berarti apa isi ujaran ini berkaitan dengan topik ataupun persoalan apa yang dibicarakan. Sedangkan bentuk ujaran itu mengacu pada diksi atau pilihan kata yang digunakan. Huruf kelima pada akronim itu adalah (K) yang menandai Key. Hal ini berarti bagaimana gaya dan penampilan para paritisipan dalam menuturkan isi pembicaraan. Apakah mereka menyampaikan secara santai serius atau tampak adanya ketegangan.
Selanjutnya huruf keenam pada akronim itu adalah (!) yaitu intrumentalites. Hal ini menunjukkan ragam bahasa apa yang digunakan pada percakapan itu. Dengan kata lain, kode ujaran yang bagaimana digunakan dalam percakapan atau pertuturan itu. Apakah ragam maupun kode-kode ragam bahasa formal atau non-formal dan sebagainya.
Huruf ketujuh pada akronim itu adalah (N) yang menandai Norm of interaction and interpretation. Hal ini berarti adanya norma ataupun aturan yang harus diperhatikan dalam pertuturan. Bagiamana cara mengemukakan pendapat, menyangkal maupun bertanya yang sopan sehingga tidak menyinggung perasaan petutur.
Kemudian huruf terakhir pada akrononim itu adalah (G), yakni gence. Hal ini mengacu pada jenis bentuk penyampaian. Apakah bentuk bahasa dalam penyampaian isi pokok pembicaraan dengan menggunakan bentukan narasi, eksposisi, deskripsi maupun argumentasi. Bahkan, apakah berbentuk bahasa sastra seperti pantun, pepatah ataupun melalui sebuah puisi.

PENUTUP
 Dalam proses komunikasi, setidak-tidaknya ada tiga komponen terkait, yakni partisipan, hal yang diinformasikan, dan alat (bahasa). Pada komunikasi berbahasa, ada dua gejala yang dominan; yakni tindak tutur dan peristiwa tutur. Tindak tutur sebagai tindakan yang ditampilkan penutur pada suatu percakapan, pada hakikatnya ada tiga jenis. Ketiga jenis itu adalah lokusi, ilokusi dan perlokusi. Tindak tutur lokusi adalah melakukan tindakan untuk mengatakan sesuatu. Ilokusi yaitu melakukan suatu tindakan dalam melakukan sesuatu. Perlokusi dalam melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Gejala kedua dalam komunikasi berbahasa adalah peristiwa tutur, yakni gejala sosial yang melibatkan para partisipan dengan satu pokok tuturan yang berlangsung pada waktu, tempat dan situasi tertentu. Peristiwa tutur ini ditandai dengan adanya delapan komponen (SPEAKING), antara lain waktu, tempat dan situasi; partisipan; maksud dan tujuan; bentuk dan isi ujaran; nada dan cara; ragam bahasa; norma; dan jenis bahasa penyampaian.

DAFTAR  RUJUKAN

Alwasilah, Chaeder A. 1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Angkasa, Bandung
Bell, T. Roger. 1995. Sociolinguistic Goals, Aproaches and Problems. (Terjemahan oleh Ibrahim) Usaha Nasional, Surabaya.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Perkenalan Awal. Rineka Cipta. Jakarta.
Ibrahim, Abd. Syukur. 1993. Kapita Selekta Sosiolinguistik. Usaha Nasional, Surabaya
--------. 1993. Kajian Tindak Tutur. Usaha Nasional. Surabaya.
Leech, Geoffirey. 1993. The Principles of Pragmatics. (Terjemahan oleh M. D. D. Oka). Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Muhadjir, dkk. 1992. Transformasi Budaya Seperti Tercermin Dalam Perkembangan Bahasa-Bahasa di Indonesia. Fakultas Sastra Universitas
      Indonesia, Jakarta.
Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik. Angkasa, Bandung.
Richard, Jack C. 1995. On CONVERSATION (Terjemahan oleh Ismari). Air Langga University Press, Surabaya.
Tarigan, H. G. 1990. Pengajaran Paragmatik. Angkasa, Bandung.
Wardhaugh, R. 1990. An Introduction to Sociolinguistics. Basil Balckwell Ltd, Oxford.
Wirotinoyo, Mujiyono, 1996. Implikatur Percakapan Anak Usia Sekolah Dasar. (Disertai, tidak dipublikasikan) IKIP-Malang, Malang.
Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 17 Januari 2012 12:45


Rendiasyah Al-Hakami. Diberdayakan oleh Blogger.